Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Jilid Pertama: Akidah (1) > Akidah > Tauhid Uluhiyyah > Bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah > Pengertian Perbudakan di Dalam Islam

Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor:7150
Pertanyaan 1 : Sudah sangat maklum dan jelas bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia. Kebebasan di dalam Islam, sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang ulama adalah kamu menjadi hamba bagi Allah dan merdeka dari selain-Nya. Kami memohon kepada Anda agar menjelaskan kepada kami secara singkat mengenai pengertian perbudakan (penghambaan) di dalam Islam, dan bagaimana cara membebaskan budak dari tuannya, serta segala hal yang berkenaan dengan hal itu. Juga mohon dijelaskan mengenai hikmah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjadikan Anas sebagai pembantu, Umar mengambil seorang pembantu dan seterusnya.
( Nomor bagian 1; Halaman 88)
Jawaban 1 : Makna penghambaan: Tunduk, rendah diri, dan patuh kepada Allah Ta'ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Juga tidak melanggar batasan-batasan yang telah Dia tetapkan, demi mendekatkan diri kepada-Nya dan mengharapkan pahala-Nya serta menghindari murka dan siksa-Nya. Inilah penghambaan hakiki yang dilakukan hanya khusus kepada Allah. Adapun penghambaan perbudakan, penghambaan semacam ini terjadi karena banyak sebab. Penyebab utamanya adalah orang kafir yang berhasil ditawan karena adanya jihad yang syar'i.
Adapun mengenai bagaimana seorang budak bisa merdeka dari tuannya, itu mempunyai banyak sebab yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam pembahasan masalah perbudakan. Di antaranya, tuannya memerdekakannya dengan niat beribadah kepada Allah Ta'ala. Di antaranya juga, tuannya memerdekakannya demi tujuan membayar kafarat (denda) pembunuhan, zihar, atau semisalnya. Sedangkan masalah mengambil seorang pembantu maka itu hukumnya boleh, sebagaimana keterangan dalam hadits Anas dan hadits-hadits lainnya. Di antara hikmah dari hal itu adalah memenuhi kebutuhan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, membantu beliau dalam berbagai hal yang bersifat pribadi, serta untuk mengetahui adab dan akhlak yang senantiasa dipraktekkan oleh beliau. Hal itu bukan berarti menandingi penghambaan yang khusus hanya kepada Allah.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Anggota Wakil Ketua Komite Ketua
Abdullah bin Qu'ud Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya