Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Jilid Pertama: Akidah (1) > Akidah > Tauhid Uluhiyyah > Bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah > "Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah" Adalah Salah Satu dari Lima Prinsip Dasar Islam

Fatwa Nomor:11110
Pertanyaan: Kalimah Thayyibah (kalimat yang baik) adalah salah satu dari lima prinsip dasar agama Islam.
( Nomor bagian 1; Halaman 96)
Apakah Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam mengajarkan kita bahwa kalimat tersebut adalah "La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah (tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah)", ataukah hanya "La ilaha illa Allah (tiada tuhan selain Allah)"? Apa dalil mengenai hal ini dalam Alquran dan kitab-kitab hadis sahih? Jika pembahasan ini disebutkan dalam Kitabullah (Alquran), maka pada surah apa dan ayat berapa? Demikian pula jika terdapat pada kitab-kitab hadis, maka mohon disebutkan halaman berapa, dan pada kategori hadis apa? Apakah dibolehkan bagi umat Islam untuk menambahkan lafal atau kalimat apa pun ke dalam ayat Alquran dan hadits sahih, jika tambahan itu baik dan dapat diterima? Bagaimana hukumnya menurut syariat?
Jawabannya sebagai berikut:
Jawaban: Kalimat thayyibah “La ilaha illa Allah” seperti disebutkan pada pertanyaan adalah salah satu dari lima prinsip dasar agama Islam. Bahkan, itu merupakan rukun Islam yang pertama. Nabi Shallallahu `Alaihi wa Salam telah mengajarkan kita kalimat tersebut, demikian pula lima rukun Islam, dalam sabdanya, "Islam dibangun di atas lima pondasi, yaitu: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan salat, membayar zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan." Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasa'i, dan Tirmidzi, dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhuma. Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam juga bersabda, "Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka mengucapkan 'tiada tuhan selain Allah'. Apabila mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka haram bagiku kecuali yang ditetapkan oleh syariat. Allah yang membuat perhitungan terhadap mereka." Hadis ini diriwayatkan oleh enam perawi kitab-kitab hadis (yaitu Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah).
Dalam hadis riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma, disebutkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam mengutus Mu`adz ke Yaman, beliau bersabda kepadanya, "Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Hal pertama yang harus kamu serukan adalah persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah." dalam riwayat lain, "...sampai mereka mentauhidkan Allah. Jika itu telah mereka taati, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika itu telah mereka patuhi, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Jika itu telah mereka taati, maka hindarilah mengambil harta yang mereka sukai. Takutlah pada doa orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah."
( Nomor bagian 1; Halaman 97)
(HR. Bukhari Muslim).
Allah Ta`ala telah memerintahkan kita agar menaati-Nya dan mematuhi Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, melalui undang-undang syariat yang dibawanya, baik dalam Kitabullah (Alquran) maupun Sunah. Allah Ta`ala berfirman, Katakanlah: "Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". Allah juga berfirman, Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah dan Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah
Umat Islam tidak diperbolehkan untuk menambah hukum, lafal, kalimat, atau apa pun pada Kitabullah atau Sunah Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam. Itu merupakan perbuatan bidah. Telah disebutkan bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa pun yang membuat hal baru (dalam urusan agama) padahal bukan bagian dari agama kita, maka hal itu tertolak." Dalam riwayat lain, "Siapa pun yang melakukan suatu perbuatan tidak berdasarkan agama kami, maka perbuatan tersebut tertolak."
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Wakil Ketua Komite Ketua
Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya