Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Kedua > Jilid pertama (akidah) > Memotret > Menaruh jam dinding bergambar di masjid

( Nomor bagian 1; Halaman 314)
Pertanyaan pertama dari fatwa nomor18161
Pertanyaan 1: Di masjid terdapat sebuah jam dinding berukuran besar, yang bergambar ka'bah beserta orang-orang yang sedang thawaf dan salat. Ada orang yang sedang ruku' dan sujud. Hanya punggung mereka yang tampak sedang wajah mereka tidak terlihat. Jam tersebut juga bertuliskan nama Allah dan disebelahnya Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta ayat kursi. Ketika saya hendak mengeluarkan jam dinding tersebut, tukang azan masjid melarang, padahal dia sudah sangat tua, dan berkata: "Jam dinding itu tidak bergambar." Hal itu dikatakannya karena sombong dan menolak kebenaran. Lantas saya menyodorkan jam tersebut kepada beberapa orang yang ada di masjid dan saya bertanya kepada mereka: "Apakah kalian melihat gambar?" Mereka menjawab: " Ya, ada gambar." Perdebatan sengit pun berlangsung hingga saya mengatakan kepadanya: "Apakah Anda menerima fatwa para ulama?" Ia menjawab: "Bagaimana mungkin saya tidak menerimanya." Saya berkata: "Insya Allah saya akan menunjukkan fatwa tersebut kepada Anda"
( Nomor bagian 1; Halaman 315)
Jawaban 1: Jam yang bergambar benda bernyawa, seperti manusia atau yang lainnya, tidak boleh ditaruh, baik itu di masjid atau di tempat lain. Menaruhnya di masjid itu jauh lebih terlarang karena termasuk menyerupai para penyembah berhala dan membuat gambar di masjid. Apalagi pada jam tersebut tertulis nama Allah dan nama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di sampingnya. Hal ini termasuk ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan juga termasuk salah satu perantara kepada perbuatan syirik. Di samping itu, gambar dan tulisan tersebut dapat mengganggu orang yang sedang salat. Oleh karena itu, gambar dan tulisan tersebut sebisa mungkin harus dihilangkan atau jam dinding tersebut dikeluarkan dari masjid dan diganti dengan jam yang tidak mengandung gambar dan tulisan tersebut.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Wakil Ketua Ketua
Shalih al-Fawzan Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya