Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Kedua > Jilid pertama (akidah) > Memotret > Membuat boneka hidup untuk menjelaskan tatacara salat

Fatwa nomor20522
Alhamdulillah Wahdahu (segala puji hanyalah bagi Allah saja). Salawat dan salam semoga dilimpahkam kepada Nabi Muhammad yang tidak ada nabi setelahnya dan selanjutnya:
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa telah mengkaji pertanyaan yang layangkan kepada yang terhormat Mufti Umum dari Yayasan Sosial di Dubai, Uni Emirat Arab, yang diajukan kepada Komite Sekretariat Jenderal Dewan Ulama Senior Nomor (4591) tanggal 27/7/1419 H. Seorang penanya mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Dengan suka cita Yayasan Sosial di Dubai menyampaikan salam terbaiknya dan berdoa kepada Allah agar Anda senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Yang Terhormat Syaikh, ada sebuah perusahaan di Uni Emirat Arab
( Nomor bagian 1; Halaman 326)
yang mempunyai ide untuk membuat mainan yang mencerdaskan. Mainan-mainan tersebut berupa boneka berbentuk anak-anak perempuan yang bisa melakukan gerakan-gerakan salat, seperti ruku' dan sujud, bisa membaca Al-Qur'an dan zikir-zikir Nabi, melafalkan huruf hija`iyyah atau kata-kata bahasa Arab, dan semisalnya. Perlu diketahui bahwa tujuan dari proyek ini adalah menguatkan prinsip-prinsip Islam dan (bahasa) Arab kepada anak-anak, di samping untuk berbisnis barang-barang tersebut. Mohon dijelaskan kepada kami -Semoga Allah memberikan pahala kepada Anda.
Setelah melakukan pengkajian (terhadap permasalahan yang diajukan), maka Komite menjawab sebagai berikut:
( Nomor bagian 1; Halaman 327)
Menggambar benda-benda bernyawa, baik berbentuk manusia atau yang lain, hukumnya haram secara syar`i, bahkan termasuk dosa besar karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah melaknat para penggambar dan memberitahukan bahwa mereka akan mendapat siksa paling berat pada hari Kiamat. Di bandingkan gambar lain, gambar berbentuk boneka tersebut lebih jahat dan lebih besar dosanya. Pembuatan boneka hidup yang bisa menirukan gerakan salat dan ibadah-ibadah lain, membaca Al-Qur'an, dan mengajarkan anak-anak huruf hijaiyyah atau yang semisalnya ini mengandung peremehan, penghinaan, dan pelecehan terhadap kedudukan ibadah atau Al-Qur'an dan menyebabkan keduanya rentan untuk dicemooh. Hal itu karena boneka tersebut melakukan gerakan dan perkataan yang diulang-ulang dan mempermainkan kitab Allah dan simbol-simbol Islam, mengingat benda-benda buatan itu bisa saja mengalami kekacauan dan kerusakan ketika mengeluarkan perkataan atau gerakan yang sudah direkam dan terprogram. Selain itu, perbuatan tersebut adalah bid`ah yang tidak ada dasarnya dan tidak dilakukan oleh salafus-Salih. Mengajarkan masalah agama dan menanamkan akhlak mulia kepada masyarakat dan generasi muda adalah dengan mengajarkan kitab-kitab syar`i yang primer dan terpercaya dengan cara menjelaskan dan memahamkan kepada mereka serta dipraktikkan langsung oleh guru dan dengan keteladanan yang baik. Seorang ayah, saudara atau yang lainnya hendaklah berprilaku dengan akhlak yang baik agar anak-anak dan keluarganya meneladani perbuatan baiknya itu. Tidak ada salahnya mengambil alat bantu kaset-kaset Islami yang bermanfaat.
Inilah pengajaran yang tepat untuk masalah-masalah yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya --Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Inilah yang dilakukan oleh Nabi --Shallallahu 'Alaihi wa Sallam-- bersama sahabatnya dan dilakukan oleh para sahabat --radhiyallahu 'anhum-- serta salafus-Saleh. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Sudah berabad-abad lamanya penyebaran dan pengajaran ilmu dilakukan dengan metode tersebut. Mereka tidak memerlukan metode baru (semacam boneka hidup) dan mereka tidak merasakan efek (negatifnya) tanpa metode baru itu, bahkan mereka lebih kuat keimanannya, lebih paham terhadap masalah-masalah agamanya, dan lebih banyak mempraktikkan dan mengamalkan sunnah Nabi --Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Berdasarkan hal itu, maka yang harus dilakukan adalah tidak membuat boneka hidup tersebut walaupun niatnya baik dan cukup memakai metode yang sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya --Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Anggota Anggota Wakil Ketua Ketua
Bakar Abu Zaid Shalih al-Fawzan Abdullah bin Ghadyan Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya