Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Kedua > Jilid Keempat: Fikih-Bersuci > Mandi > Kapan wajib mandi janabah?

Pertanyaan Keempat dari Fatwa Nomor:16061
Pertanyaan 4: Kapan wajib mandi janabah? Apakah bersenang-senang dengan istri menyebabkan wajib mandi, seperti bercumbu rayu tapi tidak sampai penetrasi dan bercumbu rayu dalam kondisi telanjang?
Jawaban 4: Wajib mandi dari janabah ketika seseorang mengeluarkan mani dengan syahwat, atau mengeluarkan mani dalam kondisi tertidur yaitu yang dikenal dengan istilah mimpi basah, atau jika melakukan penetrasi ke dalam kemaluan perempuan, walaupun tidak sampai mengeluarkan mani. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, "Jika dua alat kelamin bertemu, maka telah wajib mandi". dan sabda beliau shallallahu `alaihi wa sallam, Apabila seorang lelaki duduk di antara empat cabang milik perempuan (maksudnya kedua paha dan kedua tangan), kemudian menekannya
( Nomor bagian 4; Halaman 141)
maka dia wajib mandi walaupun belum mengeluarkan mani.
Dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ketika Ummu Sulaim bertanya kepada beliau tentang perempuan yang bermimpi basah apakah wajib mandi, beliau menjawab, "Ya, jika dia melihat air". Disepakati kesahihannya. Maksud air dalam hadis tersebut adalah mani. Adapun jika hanya bercumbu rayu tanpa mengeluarkan mani maka tidak wajib mandi.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Anggota Anggota Anggota Wakil Ketua Ketua
Bakar Abu Zaid Shalih al-Fawzan Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya