Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Jilid Ketujuh: Salat (2) > Melakukan Salat yang Mempunyai Sebab di Waktu Terlarang (Tahiyyah Masjid)

( Nomor bagian 7; Halaman 271)

Melakukan Salat yang Mempunyai Sebab di Waktu Terlarang

( Nomor bagian 7; Halaman 272)

Salat Tahiyyah Masjid

Pertanyaan Keenam dari Fatwa Nomor:6914
Pertanyaan 6: Ada beberapa hadits dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, diantaranya: Hadits Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma, ia berkata Aku ingat sepuluh rakaat dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, yaitu: dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sesudahnya. Dua rakaat sesudah Magrib dilakukan di rumahnya. Dua rakaat sesudah Isya dilakukan di rumahnya. Dan dua rakaat sebelum salat Subuh. (HR. Bukhari). Dan dari Ummu Habibah binti Abi Sufyan bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda Barangsiapa yang salat dalam sehari semalam sebanyak dua belas rakaat, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah dalam surga; empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum salat Subuh (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: "Hadits ini Hasan Shahih.")
Apakah dua rakaat salat tahiyyah masjid masuk di dalam rakaat-rakaat yang disebutkan di dalam dua hadits tersebut? Apakah dua rakaat setelah Isya maksudnya adalah dua rakaat genap?
Jawaban 6: Salat rawatib qabliyyah sudah cukup untuk menggantikan salat sunnah tahiyyah masjid. Karena maksudnya adalah agar tidak duduk di masjid sebelum menunaikan salat. Jika seseorang masuk masjid dan melakukan salat sunnah rawatib maka itu sudah cukup. Demikian pula jika ia datang ke masjid dan iqamah dikumandangkan, maka salat wajib yang ia lakukan sudah cukup dan tidak perlu lagi salat tahiyyah masjid.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota AnggotaWakil Ketua Ketua
Abdullah bin Qu'ud Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya