Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Jilid Keempat Belas: Jual Beli (2) > Mengadakan Transaksi dengan Orang Kafir

Fatwa Nomor:(19653)
Pertanyaan: Salah seorang kerabat saya mempunyai pekerja berkebangsaan India yang beragama Sikh, yakni dia adalah orang kafir. Dia dipekerjakan untuk jangka waktu empat tahun di salah seorang kerabat saya di Kerajaan Arab Saudi. Dua tahun saja telah berlalu dan kami mendapati bahwa dia mengirimkan uang yang dia peroleh ke negerinya untuk membangun candi Hindu secara terus-menerus.
Ketika hal itu kami ketahui, majikan mengatakan bahwa dia akan memulangkannya dan mengakhiri kontrak kerja dengannya disebabkan oleh sikapnya membantu saudara-saudaranya yang beragama Hindu dengan dana yang diperolehnya dari kaum muslimin. Namun, salah seorang sahabat mengingatkan kami dengan firman Allah Ta`ala,
( Nomor bagian 14; Halaman 388)
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Kami berharap Anda berkenan memberikan penjelasan kepada kami tentang apa yang telah disebutkan. Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi Anda.
Jawaban: Kalian wajib mengakhiri kontrak kerja pekerja kafir ini dan menggantinya dengan pekerja Muslim yang terpercaya karena mempekerjakan orang Muslim berarti menghidupkan jiwa saling menolong dan membahu dan menolongnya dalam urusan agama dan dunianya, yang dapat menjadi faktor pemberi kekuatan kepada kaum muslimin dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Alasan lain adalah orang-orang kafir tidak boleh dipanggil untuk datang ke wilayah Jazirah Arab ini.
Mempekerjakan orang kafir, seperti kaum Pagan (penyembah berhala), Majusi, Yahudi, dan orang-orang Nasrani serta membiarkan mereka tinggal bersama kaum Muslimin itu mudaratnya sangat besar dan bahayanya sangat fatal, yang dapat mengakibatkan kepada kerusakan, fitnah, dan kejahatan yang berakibat buruk. Mereka akan dapat dengan mudah menyebarkan paham keyakinan dan kebiasaan mereka di tengah kaum Muslimin dan mempengaruhi mereka. Mempekerjakan mereka juga berarti menolong mereka dalam kebatilan mereka, memperkuat ekonomi mereka, dan memperlancar rencana mereka untuk menentang kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam telah berwasiat agar orang-orang kafir dikeluarkan dari Jazirah Arab. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya dari hadis Ibnu Abbas yang bunyinya, "Nabi mewasiatkan tiga hal sebelum wafat, "Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab dan seterusnya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu `Alahi wa Sallam mengusir orang Yahudi dari Madinah dan melarang mereka untuk tinggal di sana lantas mengusir mereka ke Khaibar. Tatkala sisa wilayah Khaibar dapat ditaklukkan, Nabi berencana mengusir mereka yang masih tersisa yang bekerja di Khaibar
( Nomor bagian 14; Halaman 389)
kemudian mereka meminta Nabi agar membiarkan mereka supaya mereka dapat bekerja di sana sehingga Nabi membiarkan mereka tinggal di sana karena darurat. Tatkala kekuasaan kaum muslimin telah kuat dan kondisi darurat telah hilang, Umar bin Khathab radhiyallahu `anhu pada masa kepemerintahannya mengusir mereka dari Jazirah Arab secara kesuluruhan.
Perjanjian mempekerjakan pekerja non-Muslim tidak boleh dilanjutkan atau dipenuhi hingga habis kontraknya. Hal ini karena perjanjian tersebut tidak masuk dalam keumuman firman Allah Ta`ala, Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. sebagaimana yang disangkakan oleh orang yang berkata kepada Anda. Maksud ayat tersebut adalah memenuhi janji yang harus dipenuhi, baik antara Allah dan antara hamba-Nya, seperti janji-janji yang telah diikat oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya dan hukum-hukum agama yang diwajibkannya kepada mereka atau di antara sesama hamba yang wajib dipenuhi, yaitu perjanjian yang sesuai dengan Alquran dan Sunah Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam. Jika melanggar atau menentang keduanya, maka kontrak atau perjanjian tersebut tidak wajib dipenuhi dan tidak boleh berkomitmen untuk memenuhinya
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Anggota Wakil Ketua Ketua
Bakar bin Abdullah Abu Zaid Shalih bin Fawzan al-Fawzan Abdul Aziz bin Abdillah Alu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya