Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Volume XIX (Nikah 2) > Jatah bergilir antara sejumlah isteri > Tidak Memperlakukan Para Istri dan Anak-anak secara Adil

Fatwa Nomor9338
Pertanyaan: Alhamdulillah, saya adalah seorang remaja muslim yang taat beragama, berjenggot, dan sangat berbakti kepada ibu saya. Ayah saya menikah lagi dengan wanita lain selain ibu saya. Masalahnya, dia lebih mencintai istri keduanya dan anak-anaknya, serta selalu mendahulukan mereka daripada saudara-saudara saya, yang terdiri dari dua saudara perempuan dari ibu saya. Istri kedua ayah saya ini merupakan seorang wanita yang dengki kepada kami. Dia tinggal di lantai dasar, sedangkan kami tinggal di lantai pertama, di rumah yang sama. Ayah selalu tidur dan makan di rumahnya serta membelikan barang untuk mereka, tapi tidak pernah membelikan barang untuk kami dengan alasan saya dan saudara perempuan saya sudah memiliki penghasilan. Padahal, dia juga memiliki anak-anak yang juga memiliki penghasilan.
( Nomor bagian 19; Halaman 195)
Di samping itu, dia tidak pernah tidur di kamar ibu atau makan di tempat kami. Hal itu sudah terjadi sejak lama, tepatnya sejak 13 tahun yang lalu. Setiap bertemu dengannya, saya selalu menyapanya dan saya juga menghormatinya. Namun saya tidak turun ke rumahnya karena saya merasa tidak nyaman dengan istri ayah saya yang pandangannya selalu mengisyaratkan kebencian dan sikap tidak baik. Ketika terjadi pertengkaran di antara kami dan ibu kami, ayah selalu membelanya, yakni istri keduanya. Dia juga takut dengan istri keduanya itu dan tidak pernah menghormati ibu saya. Dia selalu bertengkar dengan ibu saya karena hal-hal sepele, meskipun ibu saya menghormatinya, bahkan melayani ibu ayah saya selama kurang lebih dua puluh tahun, sampai beliau meninggal dunia. Pertanyaannya adalah: Apakah saya berdosa jika saya mencela ayah saya di belakangnya, karena saya merasa dia sudah zalim kepada kami? Apakah ayah saya juga berdosa karena telah menzalimi kami? Perlu diketahui bahwa dia tidak pernah memberikan nafkah kepada ibu kami. Apakah saya berdosa jika saya tidak berkunjung ke rumahnya di lantai dasar pada hari raya untuk mengucapkan selamat hari raya? Perlu diketahui bahwa dia tidak pernah datang ke rumah kami pada hari raya untuk mengucapkan selamat hari raya kepada kami. Apakah cara yang benar menurut syariat yang harus ditempuh ibu saya untuk mendapatkan nafkah dari ayah? Apakah nasihat Anda untuk saya dalam hal interaksi saya dengan ayah saya? Ayah biasanya mengunjungi kami setiap dua atau tiga hari sekali. Itu pun tak lebih dari 10 menit.
( Nomor bagian 19; Halaman 196)
Jawaban: Jika faktanya memang seperti yang telah Anda sampaikan, maka ayah Anda telah melakukan kesalahan karena tidak memperlakukan kedua istrinya dengan adil, demikian juga karena tidak memperlakukan anak-anak secara adil. Meski demikian, Anda tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan serupa. Tetaplah bersikap baik kepadanya dan jangan memutuskan tali silaturrahim dengannya. Jangan menjelek-jelekkan reputasinya, serta jangan pernah durhaka kepadanya. Nasihatilah dia dengan cara yang baik dan tunjukkan apa yang harus dia lakukan terhadap istri dan anak-anaknya. Lakukan hal itu dengan cara yang baik. Mintalah hak-hak Anda, saudara-saudara Anda, dan ibu Anda dengan cara yang baik. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Wakil Ketua Ketua
Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya