Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Volume XIX (Nikah 2) > Jatah bergilir antara sejumlah isteri > Istri yang melaknat suaminya tidak menjadikan dirinya haram bagi suami tersebut

Fatwa Nomor:5017
Pertanyaan: Terjadi antara seseorang dan istrinya (G. F) kesalahpahaman yang membuat sang istri marah dan berbicara kepada suaminya dengan ucapan yang tidak pantas, hingga sampai kepada melaknat suaminya dan mertuanya karena emosi. Dia menanyakan penjelasan hukum tentang permasalahan ini. Setelah pelaknatan ini apakah dia halal bagi istrinya atau haram ? Oleh karena itu, kami ingin Anda berkenan membantu kami untuk mencarikan solusinya. Semoga Allah memberikan balasan terbaik atas jasa Anda terhadap Islam dan kaum Muslimin. Harap kami diberi penjelasan. Semoga Allah senantiasa melindungi Anda.
( Nomor bagian 19; Halaman 240)
Jawaban: Pertama, melaknat orang Muslim termasuk dosa besar, berdasarkan hadis Tsabit bin adh-Dhahhak bahwasanya Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Seseorang tidak boleh bernazar dengan sesuatu yang tidak dia miliki". dan Melaknat seorang Mukmin sama halnya dengan membunuhnya dan Barangsiapa bunuh diri dengan menggunakan sesuatu, maka kelak pada hari kiamat dia akan disiksa dengan sesuatu tersebut. dan "Barangsiapa bersumpah dengan selain agama Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia ucapkan". dan "Barangsiapa menuduh seseorang yang beriman sebagai kafir, maka seakan-akan dia telah membunuhnya". (Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan para penulis Kitab Sunan). Perbuatan melaknat bertentangan dengan akhlak mulia dan persaudaraan antara kaum Muslimin, terutama kepada para kerabat dan suami-istri. Orang yang melaknat harus bertobat kepada Allah, meminta ampun, menyesali perbuatannya, dan menahan dirinya untuk bericara buruk dan keji serta meminta maaf kepada orang yang dihina. Kedua, pelaknatan yang dilakukan oleh istri terhadap suaminya tidak menyebabkan istri menjadi haram bagi suaminya. Sang istri hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, tidak saling mencaci, menjaga lisan, dan menjaga hak-kewajiban suami istri dan adab Islami. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Anggota Wakil Ketua Ketua
Abdullah bin Quud Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya