Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Jilid Kelima: Fikih - Bersuci > Ushul Fikih > Fatwa > Mazhab-Mazhab Fikih > Klaim bahwa Ada Kewajiban untuk Mengikuti Ulama Tertentu adalah Tidak Benar

Fatwa Nomor:( 12548 )
Pertanyaan: Saya membaca sebuah buku yang ditulis dalam Bahasa Arab. Pengarangnya berkata, "Sesungguhnya kedudukan para imam-imam mazhab dalam Islam, yaitu Abu Hanifah, Ahmad, Malik, dan Syafi'i, serta para imam lainnya, adalah sama seperti Paulus dalam agama Kristen. Sebab, para imam tersebut memalingkan umat manusia dari hakikat kepada kepentingan (pemikiran) pribadi mereka, sekalipun terdapat dalil-dalil dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka mengemukakan pendapat-pendapat individu di atas dalil-dalil ini." Apa sanggahan terhadap penulis buku tersebut? Dia juga berkata, "Sesungguhnya orang yang mengikuti mereka adalah kafir karena telah mengikuti manusia dan meninggalkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam."
Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, keluarga, dan sahabat beliau. Amma ba'du,
( Nomor bagian 5; Halaman 77)
Pertama, sesungguhnya para imam mazhab yang empat, yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad bin Hanbal termasuk yang terbaik di antara para ulama. Mereka adalah pengikut Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang dianggap paling unggul dalam kategori ulama ahli ijtihad dan istinbath (penyimpulan) hukum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya yang rinci. Pernyataan pengarang buku tersebut yang menyebutkan bahwa para imam telah memalingkan umat manusia dari hakikat dan mengikuti hawa nafsu mereka adalah kebohongan dan tudingan keji. Orang yang mengikuti pendapat para imam tersebut bukanlah kafir, karena diperbolehkan untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab itu jika tidak mengetahui hukum Islam.
Kami telah mengeluarkan fatwa tentang mazhab yang empat, sebagai berikut:
Mujtahid dari kalangan ulama fikih banyak jumlahnya, terutama pada tiga abad yang mendapatkan pengakuan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai generasi terbaik. Yang paling terkenal di antara mereka sepanjang sejarah ada empat: Abu Hanifah (Nu'man bin Tsabit) di Irak, Abu Abdillah Malik bin Anas al-Ashbahi di Madinah Munawarah, Abu Abdillah Muhammad bin Idris as-Syafi'i al-Qurasyi yang merupakan ulama Quraisy dan kebanggaan mereka, dan Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal as-Syaibani yang merupakan imam hadits, teladan, dan ahli fikih untuk penduduk Irak pada zamannya.
Ada banyak faktor atas kemasyhuran mereka. Di antaranya karena tersebar luasnya pemikiran mereka di negara tempat mereka dibesarkan atau di daerah yang pernah dikunjungi -- dengan kehendak ilahi. Misalnya Abu Hanifah dan Ahmad rahimahumallah di Irak, Malik di Madinah, Syafi'i di Mekah
( Nomor bagian 5; Halaman 78)
dan Mesir.
Selain itu dipengaruhi pula oleh aktifitas murid-murid dan orang-orang yang mengadopsi, mengikuti dasar-dasar mazhab dan ijtihad mereka, yang didakwahkan kepada penduduk negara asal mereka atau yang mereka datangi. Misalnya Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf di Irak, Ibnu al-Qasim dan Asyhab di Mesir, Sahnun di Maroko, ar-Rabi' bin Sulaiman di Mesir, dan murid-murid Imam Ahmad di Syam (sekarang Suriah, Yordania, Lebanon, Palestina, dan Israel) dan Irak. Faktor lainnya adalah kebijakan pemerintah yang menerapkan mazhab-mazhab tersebut dan merekrut ulama-ulamanya untuk menduduki berbagai jabatan di beberapa lembaga seperti pengadilan, mendirikan sekolah-sekolah untuk penyebarannya, menyediakan aset wakaf, dan lain-lain. Tidak ada di antara para imam mazhab itu yang mengajak orang lain untuk mengikuti mereka. Tidak ada pula perintah dari mereka untuk untuk fanatik dan hanya mengamalkan mazhab tertentu. Mereka hanya mengajak untuk mengamalkan Alquran dan Sunah dengan menjelaskan teks-teks agama, menerangkan kaidah-kaidahnya, dan membuat cabang pembahasannya. Mereka memberikan fatwa hanya ketika ada yang bertanya, tanpa mengharuskan seorang pun dari murid-murid mereka atau lainnya untuk mengikuti pendapat tertentu. Sebaliknya, mereka justru mencela orang yang melakukannya dan meminta para murid untuk membuang pendapat mereka jika menyalahi hadits sahih. Di antara mereka bahkan ada yang berkata, "Jika ada hadits sahih, maka itulah mazhab saya."
( Nomor bagian 5; Halaman 79)
Tidak ada kewajiban bagi siapa pun untuk mengikuti mazhab tertentu. Namun kita harus berupaya keras untuk mengetahui kebenaran jika memungkinkan, dengan meminta pertolongan kepada Allah, lalu kepada para ulama melalui khazanah ilmiah yang telah diwariskan untuk umat. Bahkan mereka telah memudahkan metode untuk memahami teks-teksnya dan cara mempraktikkannya. Bagi orang yang tidak memungkinkan untuk menyimpulkan hukum dan semacamnya karena suatu hal, maka dia harus bertanya kepada para ulama terpercaya. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Dia wajib teliti dalam bertanya kepada orang yang dipercayainya dari segi ilmu, keutamaan, takwa, dan kesalehan.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Anggota Wakil Ketua Ketua
Abdullah bin Qu'ud Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq 'Afifi Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya