Membuka Berdasarkan Nomor Jilid > Kumpulan Pertama > Jilid Ketujuh: Salat (2) > Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam > Kesahihan Selawat al-Fatih

( Nomor bagian 7; Halaman 66)
Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor4551
Pertanyaan 5: Ada selawat yang diucapkan oleh sebagian orang, “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-Fatih lima ughliga wa al-Khatam lima sabaqa nashiru al-haq bil haq wa al-hadi ila shirathin mustaqim." Apakah doa ini benar atau tidak?
Jawaban 5: Tidak ada riwayat sahih dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang selawat dalam bentuk kalimat seperti ini. Maknanya memang benar, kecuali perkataan "al-Fatih lima ughliqa" yang bermakna global. Jika maksudnya adalah bahwa Nabi seorang pembuka syariat agung dengan syariat yang dibawanya ketika segala jalan umat manusia tertutup dan telah kacau, maka hal itu benar. Jika maksudnya bukan itu, maka perkataan tersebut haruslah diberi penjelasan hingga makna yang dikehendakinya dapat diteliti. Sebaik-baik selawat adalah selawat Ibrahimiyah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya dan yang diajarkan oleh para sahabatnya kepada orang setelah mereka. Selawat inilah yang diamalkan oleh kaum Muslimin sekarang di akhir salat mereka sebelum salam. Selawat itulah yang dianjurkan. Adapun selawat yang dinamakan dengan selawat al-Fatih adalah bidah yang wajib ditinggalkan karena selawat tersebut tidak diriwayatkan berasal dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam dan awal kalimatnya bersifat global yang bisa bermakna benar dan batil.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Wakil Ketua Ketua
Abdullah bin Qu'ud Abdurrazzaq Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



  Sebelumnya     Berikutnya